Contoh script cold call ke decision maker B2B mengikuti lima langkah yang diuraikan Jeb Blount: sapa dengan nama, perkenalkan diri dalam satu kalimat, jelaskan tujuan menelepon, beri alasan yang relevan bagi penerima, dan minta tindakan yang jelas berupa usulan waktu serta durasi. Tujuan telepon adalah memperoleh langkah berikutnya, misalnya jadwal diskusi 20 menit.
Seorang sales mendapat nomor kantor direktur operasional dari sebuah pameran. Saat menelepon, ia membuka dengan “Selamat pagi Pak, kami ingin memperkenalkan produk baru kami” lalu langsung membacakan keunggulan produk. Belum satu menit, direktur itu menjawab “kirim brosur saja” dan menutup telepon. Telepon masih menjadi kanal penting untuk menjangkau decision maker, asalkan tujuannya jelas dan alasannya relevan bagi penerima. Contoh script cold call di artikel ini disusun dengan prinsip tersebut.
Apa Tujuan Cold Call ke Decision Maker?
Tujuan cold call adalah memperoleh langkah berikutnya, misalnya jadwal diskusi, atau informasi yang relevan. Jeb Blount dalam Virtual Selling menempatkan telepon sebagai kanal komunikasi langsung yang penting. Menjelaskan seluruh produk lewat telepon jarang berhasil, karena decision maker belum punya alasan untuk mendengarkan.
Kerangka Lima Langkah Script Cold Call
Jeb Blount menguraikan lima langkah yang bisa diadaptasi untuk konteks B2B di Indonesia:
- Tarik perhatian lewat sapaan. Sebut nama penerima dengan sapaan yang sesuai, misalnya Bapak atau Ibu.
- Perkenalkan diri dan perusahaan. Singkat, cukup satu kalimat.
- Jelaskan tujuan menelepon. Katakan dengan jelas apa yang Anda minta.
- Beri alasan yang relevan bagi penerima. Kaitkan dengan situasi, kebutuhan, atau prioritas mereka yang sudah Anda telusuri.
- Minta tindakan yang jelas. Usulkan waktu dan durasi.
Alasan “karena kami punya produk baru” berpusat pada penjual. Alasan yang lebih kuat berhubungan dengan kondisi penerima, misalnya rencana proyek, pergantian sistem, atau masalah yang lazim di industrinya.
Contoh Script Cold Call
Berikut contoh untuk distributor peralatan laboratorium.
Sales: “Selamat pagi, Bu [Nama]. Saya [Nama Anda] dari [perusahaan], distributor peralatan laboratorium.”
Sales: “Saya menelepon untuk menjadwalkan diskusi singkat. Saya membaca rumah sakit Ibu sedang menyiapkan pengembangan layanan laboratorium tahun depan. Di tahap ini tim biasanya perlu menghitung kebutuhan alat sesuai volume pemeriksaan, dan kami sering membantu menyusun perhitungannya.”
Sales: “Apakah Ibu berkenan meluangkan 20 menit hari Rabu atau Kamis untuk membahas rencana tersebut bersama kepala laboratorium?”
Pastikan sinyal yang Anda sebut benar dan bisa ditelusuri. Jangan mengarang informasi ekspansi atau kebutuhan agar alasan terdengar lebih kuat. Bila calon pembeli tahu informasinya keliru, kredibilitas Anda turun.
Cara Merespons Jawaban Awal Decision Maker
Respons jawaban awal dengan klarifikasi, tanpa berdebat, karena jawaban pertama decision maker sering berupa penolakan ringan.
- “Kirim brosur saja.” “Baik, Bu. Agar yang saya kirim relevan, kebutuhannya lebih ke [opsi A] atau [opsi B]?” Kirim materi sesuai jawaban, jangan semua brosur sekaligus, lalu sepakati kapan Anda menghubungi kembali.
- “Kami sudah punya vendor.” “Baik, Bu. Bagian apa yang sudah berjalan baik, dan adakah kebutuhan yang belum tercakup?” Bila memang tidak ada kebutuhan, jangan memaksakan peluang.
- “Belum ada anggaran.” “Apakah memang belum menjadi prioritas, atau sedang menunggu siklus perencanaan?” Jawabannya menentukan apakah akun ini di-nurture atau dihentikan.
- “Saya sedang sibuk.” “Baik, Bu. Kapan waktu yang lebih nyaman, atau lebih tepat saya kirim ringkasan singkat dulu?” Catat preferensinya.
Bila penolakan dinyatakan dengan jelas, hormati. Follow-up berulang untuk mengabaikan keputusan seseorang merusak reputasi Anda dan perusahaan.
Cara Menghadapi Sekretaris saat Cold Call
Perlakukan sekretaris sebagai bagian dari proses, dan jelaskan alasan menelepon dengan jujur. Di banyak perusahaan dan rumah sakit, telepon ke decision maker diterima sekretaris atau staf lebih dulu.
Sekretaris: “Ada keperluan apa dengan Ibu Direktur?”
Sales: “Saya [Nama Anda] dari [perusahaan]. Saya ingin menjadwalkan diskusi 20 menit terkait rencana pengembangan layanan laboratorium yang sedang disiapkan. Kapan waktu yang biasanya tepat untuk menghubungi beliau, atau apakah lebih baik saya kirim ringkasan singkat lewat email Ibu?”
Sekretaris: “Kirim email saja, nanti saya sampaikan.”
Sales: “Baik, terima kasih. Saya kirim hari ini. Boleh saya telepon kembali hari Kamis untuk menanyakan jadwal beliau?”
Catat nama sekretaris dan kesepakatan waktunya. Menghubungi kembali sesuai janji membangun kepercayaan, dan sekretaris sering membantu mengatur jadwal bila prosesnya jelas.
Bila Telepon Tidak Diangkat
Siapkan pesan suara atau pesan teks singkat dengan struktur yang sama: siapa Anda, alasan yang relevan, dan satu permintaan. Pesan yang tenang dan ringkas lebih mudah dibalas daripada pesan panjang. Bila belum ada respons, kirim satu materi yang menjawab kebutuhan potensial mereka beberapa hari kemudian, lalu beri jeda. Bila belum ada respons setelah beberapa upaya, kirim pesan penutup yang sopan, misalnya “Saya pahami ini mungkin belum menjadi prioritas. Saya akan menghubungi lagi menjelang periode perencanaan anggaran.” Bila seseorang menyatakan tidak ingin dihubungi, hentikan.
Persiapan sebelum Cold Call
- Pastikan Anda menghubungi orang yang tepat dan nomornya adalah kontak profesional.
- Tulis satu kalimat alasan yang relevan untuk setiap orang yang akan ditelepon.
- Siapkan dua pilihan waktu untuk diusulkan.
- Kelompokkan telepon dalam satu blok waktu di pagi hari, sebelum membuka email dan CRM.
- Latih skrip dengan rekan atau atasan, lalu sesuaikan dengan gaya bicara Anda sendiri.
Setelah setiap telepon, catat hasilnya di CRM pada hari yang sama: siapa yang diajak bicara, jawaban yang diberikan, dan langkah berikutnya beserta tanggal. Catatan ini berguna saat review dengan sales manager untuk melihat pola, misalnya alasan mana yang paling sering mendapat jadwal diskusi.
Langkah Minggu Ini
Pilih lima decision maker di akun prioritas. Tulis alasan relevan untuk masing-masing berdasarkan sinyal yang bisa ditelusuri, lalu telepon dalam satu blok waktu pagi dengan kerangka lima langkah. Catat jawaban pertama setiap orang dan respons Anda. Di akhir minggu, bahas catatan itu bersama sales manager dan pilih satu bagian skrip yang perlu diperbaiki untuk minggu berikutnya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu cold calling?
Cold calling adalah menelepon calon pembeli yang belum pernah berhubungan dengan Anda untuk membuka percakapan bisnis. Dalam B2B, tujuan yang realistis adalah mendapatkan jadwal diskusi atau informasi yang relevan. Menjelaskan seluruh produk lewat telepon jarang berhasil.
Bagaimana merespons decision maker yang bilang kirim brosur saja?
Tanyakan kebutuhan mana yang paling relevan agar materi yang dikirim sesuai, misalnya dengan menawarkan dua opsi. Kirim materi yang dipilih saja, lalu sepakati kapan Anda menghubungi kembali.
Bagaimana cara menghadapi sekretaris saat menelepon direktur?
Perkenalkan diri dan jelaskan alasan menelepon dengan jujur, lalu tanyakan waktu yang tepat atau tawarkan mengirim ringkasan lewat email. Catat nama sekretaris dan hubungi kembali sesuai janji, karena konsistensi ini membangun kepercayaan.
Program SFP® — Sales Foundation Professional
Fondasi kerja sales dari prospecting sampai closing, termasuk menggali kebutuhan, melibatkan decision maker, dan menyepakati next step.
Pelajari SFP® →
Founder & CEO PT Asia Spirit Consulting, Authorized Business Partner & Master Trainer Sales Management Institute Inc. USA untuk Indonesia. 23+ tahun praktik sales dan sales leadership B2B.
Profil lengkap →LinkedIn →




