Dalam negosiasi penjualan B2B, diskon kecil memotong laba jauh lebih besar dari kesannya. Dengan margin kotor 25 persen, diskon 5 persen menuntut kenaikan volume 25 persen agar laba kotor tetap sama. Sales perlu menghitung tambahan volume ini, menanyakan pembanding yang dipakai customer, dan meminta imbal balik sebelum menyetujui potongan harga.
Akhir bulan, satu deal hampir closing. Procurement meminta potongan 5 persen, dan sales menelepon atasannya: "Kalau tidak dikasih, kita kalah." Atasan setuju karena target bulan itu belum tercapai. Kejadian seperti ini berulang di banyak negosiasi penjualan, dan jarang ada yang menghitung berapa laba yang hilang.
Berapa Dampak Diskon terhadap Laba?
Dampak diskon terhadap laba jauh lebih besar dari persentase potongannya, karena potongan harga langsung mengurangi laba per unit sementara biaya pokok tetap. Ambil contoh margin kotor 25 persen: dari setiap Rp 100 harga jual, laba kotornya Rp 25. Agar laba kotor total sama seperti sebelum diskon, volume penjualan harus naik:
- Diskon 2 persen: laba per unit turun dari 25 menjadi 23, volume perlu naik sekitar 8,7 persen.
- Diskon 5 persen: laba per unit turun dari 25 menjadi 20, volume perlu naik 25 persen.
- Diskon 10 persen: laba per unit turun dari 25 menjadi 15, volume perlu naik sekitar 67 persen.
Rumusnya: tambahan volume sama dengan laba per unit awal dibagi laba per unit baru, dikurangi satu. Pada deal senilai Rp 1 miliar dengan margin 25 persen, diskon 5 persen memotong laba kotor dari Rp 250 juta menjadi Rp 200 juta. Angka ini bisa dihitung sales sendiri sebelum mengajukan persetujuan diskon.
Riset Marn dan Rosiello di Harvard Business Review (1992) menunjukkan perbaikan harga 1 persen rata-rata menaikkan laba operasional sekitar 11 persen. Arah sebaliknya juga berlaku: potongan kecil yang diberikan rutin menggerus laba jauh lebih besar dari kesan awalnya.
Cara Negosiasi dengan Klien Sebelum Menyetujui Diskon
Sebelum menyetujui potongan, jawab empat pertanyaan ini:
- Apakah customer sudah menyebut pembandingnya secara spesifik, misalnya penawaran kompetitor atau batas anggaran tertulis?
- Apakah nilai solusi (biaya perawatan, waktu berhenti alat, dukungan teknis) sudah dibahas dengan decision maker?
- Apa yang customer berikan sebagai gantinya: volume lebih besar, kontrak lebih panjang, pembayaran lebih cepat, atau kesediaan menjadi referensi?
- Berapa tambahan volume yang dibutuhkan untuk menutup potongan ini, dan apakah angka itu realistis?
Diskon tanpa imbal balik membuat customer belajar bahwa harga awal Anda selalu bisa ditawar. Diskon dengan imbal balik menjaga posisi negosiasi untuk transaksi berikutnya.
Langkah minggu ini
Ambil tiga deal terakhir yang closing dengan diskon. Hitung tambahan volume yang seharusnya dibutuhkan untuk menutup potongan itu, lalu bahas hasilnya di sales review berikutnya sebagai dasar aturan persetujuan diskon tim.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Bagaimana cara negosiasi dengan klien tanpa menurunkan harga?
Mulailah dengan menanyakan pembanding yang dipakai klien, misalnya penawaran kompetitor atau batas anggaran tertulis. Bahas nilai solusi seperti biaya perawatan dan waktu berhenti alat dengan decision maker. Jika potongan tetap diperlukan, minta imbal balik berupa volume, kontrak lebih panjang, atau pembayaran lebih cepat.
Bagaimana cara menghitung dampak diskon terhadap laba?
Bagi laba per unit sebelum diskon dengan laba per unit sesudah diskon, lalu kurangi satu. Hasilnya adalah tambahan volume yang dibutuhkan agar laba kotor total tetap. Pada margin kotor 25 persen, diskon 10 persen membutuhkan tambahan volume sekitar 67 persen.
Kapan diskon boleh diberikan dalam penjualan B2B?
Diskon layak dipertimbangkan bila customer sudah menyebut pembandingnya secara spesifik dan nilai solusi sudah dibahas dengan decision maker. Potongan sebaiknya selalu ditukar dengan sesuatu yang bernilai bagi perusahaan. Diskon tanpa imbal balik membuat customer menganggap harga awal selalu bisa ditawar.
Program CSMP® — Sales Management
Bangun proses, KPI, dan aturan main tim sales agar margin dan forecast terjaga.
Lihat program CSMP® →
Founder & CEO PT Asia Spirit Consulting, Authorized Business Partner & Master Trainer Sales Management Institute Inc. USA untuk Indonesia. 23+ tahun praktik sales dan sales leadership B2B.
Profil lengkap →LinkedIn →






